Kamis, 17 Oktober 2013

Keluarga dan Sosialisasi

1. Pengertian keluarga, peranan dan fungsi dalam sosialisasi
            Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan didikan dan bimbingan. Tugas utama dari keluarga bagi pendidikan anak adalah sebagai peletak dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan. Sifat dan tabiat anak sebagian besar diambil dari kedua orang tuanya dan dari anggota kelurga yang lain.
Maka dari itu dapat dirumuskan intisari pengertian keluarga, yaitu :
a.       Keluarga merupakan kelompok sosial kecil yang umumnya terdiri atas ayah, ibu dan anak.
b.      Hubungan sosial diantara keluarga relatif tetap dan didasarkan atas ikatan darah, perkawinan dan adopsi.
c.       Hubungan antar anggota keluarga dijiwai oleh suasana afeksi dan rasa tanggung jawab.
d.      Fungsi keluarga adalah memelihara, merawat dan melindungi anak dalam rangka sosialisasinya agar mereka mampu mengendalikan diri dan berjiwa sosial.
            Dengan demikian terlihat betapa besar tanggung jawab orang tua kepada sang anak. Bagi sang anak, keluarga merupakan persekutuan hidup pada lingkungan keluarga tempat dimana ia menjadi diri pribadi.
1.      Perkembangan Fungsi dan Peranan Keluarga
Keluarga merupakan institusi sosial yang bersifat universal dan multifungsional. Fungsi pengawasan, sosial, pendidikan, keagaamaan, perlindungan, dan rekreasi dilakukan oleh keluarga terhadap anggota-anggotanya.
Menurut Vembriarto (1990) ada 3 macam fungsi yang tetap melekat sebagai ciri hakiki keluarga:
a.       Fungsi Biologis
Fungsi biologis orang tua adalah melahirkan anak. Fungsi ini merupakan dasar kelangsungan hidup masyarakat. Namun fungsi ini cenderung mengalami perubahan. Sekarang, keluarga memiliki jumlah anak yang sedikit. Faktornya yaitu : (1) Perubahan tempat tinggal keluarga dari desa ke kota, (2) makin sulitnya fasilitas perumahan, (3) banyaknya anak dipandang sebagai penghalang kesuksesan material keluarga, (4) banyaknya anak dipandang sebagai penghalang kemesraan keluarga, (5) meningkatnya taraf pendidikan wanita berakibat berkurangnya kesuburan kandungan, (6) menipisnya pengaruhajaran agama, (7) makin banyaknya ibu-ibu yang bekerja di luar rumah, (8) makin meluasnya penggunaan alat kontrasepsi.
b.      Fungsi Afeksi
Hubungan afektif ini tumbuh sebagai akibat hubungan cinta kasih yang menjadi dasar perkawinan. Dari hubungan cinta kasih lahirlah hubungan persaudaraan, persahabatan, kebiasaan, identifikasi, persamaan pandangan mengenai nilai-nilai. Dasar cinta kasih dan hubungan afektif ini merupakan faktor penting bagi perkembangan anak.
c.       Fungsi Sosialisasi
Fungsi ini menunjuk peranan keluarga dalam membentuk kepribadian anak. Melalui interaksi sosial dalam keluarga itu anak mempelajari pola-pola tingkah laku, sikap, keyakinan, cita-cita dan nilai-nilai dalam masyarakat dalam proses perkembangan pribadinya.
Oleh karena itu, disini akan dipaparkan fungsi-fungsi keluarga yang mengalami pergeseran sebagai akibat pengaruh dari gencarnya perubahan sosial yang melingkupi aktifitas-aktifitasnya. Fungsi-fungsi sosial yang mengalami perubahan antara lain :
Ø  Fungsi Pendidikan
Fungsi pendidikan keluarga ini telah mengalami perubahan. Secara informal fungsi pendidikan keluarga masih tetap penting,, namun secara formal sudah diambil alih oleh sekolah.
Ø  Fungsi Rekreasi
Dulu, keluarga merupakan rekreasi bagi anggota keluarganya. Sekarang rekreasi berada diluar keluarga, seperti mall, bioskop, taman dll. Perubahan tersebut menimbulkan 2 akibat, yaitu jenis-jenis rekreasi keluarga menjadi lwbih bervariasi dan anggota keluarga cenderung mencari hiburan diluar keluarga.
Ø  Fungsi Keagamaan
Dulu, keluarga merupakan pusat pendidikan upacara ritual dan ibadah agama bagi para anggotanya. Namun sekarang berubah karena adanya proses sekulerisasi dalam masyarakat dan merosotnya pengaruh institusi agama.
Ø  Fungsi Perlindungan
Dahulu keluarga berfungsi memberikan perlindungan kepada anggotanya. Sekarang banyak fungsi perlindungan dan perawatan diambil alih oleh badan-badan sosial.
2. Keluarga sebagai kelompok primer
Proses perubahan masyarakat dari masyarakat agraris yang masih tradisional ke arah masyarakat industri yang bernuansa modern telah mempengaruhi perubahan organisasi keluarga merupakan institusi yang paling pengaruhnya terhadap proses sosialisasi individu atau seseorang.
            Kondisi- kondisi yang menyebabkan pentingnya peranan keluarga dalam proses sosialisasi anak ialah:
a. keluarga merupakan kelompok kecil yang anggota- anggotanya berinteraksi face to face   secara tetap. Dalam kelompok yang demikian perkembangan anak dapat diikuti dengan seksama oleh orang tuanya dan penyesuaian secara pribadi  dalam hubungan secara pribadi dalam hubungan sosial lebih mudah terjadi.
b. orang tua mempunyai motivasi yang kuat untuk mendidik  anak karena merupakan buah cinta kasih hubungan suami isteri. Anak merupakan  perluasan biologis dan sosial orang tuanya . motivasi kuat ini melahirkan hubungan emosional antara orang tua dan anak. Penelitian- penelitian  membuktikan bahwa hubungan emosional lebih berarti dan efektif  daripada hubungan intelektual dalam proses sosialisasi.
c. oleh karena hubungan sosial di dalam keluarga itu bersifat relatif tetap, maka orang tua memainkan peranan sangat penting terhadap proses sosialisasi anak.
            Keluarga sebagaii lembaga pertama dan utama yang memberikan pendidikan kepada individu secara lahir dan batin untuk tumbuh dan berkembang hingga sang anak menginjak dewasa . dalam hal ini beberapa aspek tujuan sosialisasi yang dilaksanakan oleh keluarga untuk masyarakat modern seperti mengajarkan  bermacam- macam ketrampilan, telah diambil  alih oleh lembaga sekolah atau institusi sosial yang lain.
2. Tujuan sosialisasi dalam keluarga
            Secara mendasar terdapat tiga tujuan sosilalisasi di dalam keluarga, yakni sebagai berikut:
a. penguasaan diri
masyarakat menuntut penguasaan diri pada anggota- anggotanya. Proses mengajar anak untuk menguasai diri ini dimulai pada waktu orang tua melatih anak untuk memelihara kebersihan dirinya. Ini merupakan tuntunan sosial pertama yang dialami oleh anak untuk laatihan penguasaan diri. Tuntunan penguasaan diri ini berkembang, dari yang bersifat fisik kepada penguasaan diri secara emosional. Anak harus menahan kemarahannya terhadap orang tua atau saudara- saudaranya.  Tuntunan sosial yang menuntut agar anak menguasai diri merupakan pelajaran yang berat bagi anak.
b. nilai- nilai
bersama- sama dengan proses berlatih penguasaan diri ini kepada anak diajarkan nilai- nilai. Penelitian- penelitian menunjukkan bahwa nilai- nilai  dasar dalam diri seseorang terbentuk pada usia 6 tahun. Di dalam perkembangan usia tersebut keluarga memegang peranan terpenting dalam menanamkan nilai- nilai. Sebagai contoh melatih anak menguasai diri agar permainannya dapat dipinjamkan kepada temannya, maka disitu dapat muncul suatu makna tentang arti dari kerja sama. Mengajarkan  anak menguasai diri agar tidak bermain- main dahulu sebelum menyelesaikan pekerjaan rumahnya maka di situ mengndung ajaran tentang nilai sukses dalam pekerjaan.
c. peran- peran sosial
mempelajari peran- peran sosial ini terjadi melalui interaksi sosial dalam keluarga. Setelah dalam diri anak berkembang kesadaran diri sendiri yang membedakan dirinya dengan orang lain, dia mulai mempelajari peranan- peranan sosial yang sesuai dengan gambaran tentang dirinya. Dia mempelajari peranannya sebagai anak , sebagai saudara, sebagai laki- laki atau perempuan dan sebagainya. Proses mempelajari peran- peran sosial ini kemudian dilanjutkan di lingkungan kelompok sebaya, sekolah perkumpulan- perkumpulan dan lain sebagainya.
Ciri yang melekat pada keluarga
            Keluarga merupakan lingkup kehidupan yang paling berpengaruh terhadap perjalanan seorang individu, maka peran keluarga dalam hubungan sosialisasi anak juga dipengaruhi  oleh ciri yang melekat di dalam keluarga tersebut. Anak yang tumbuh kembang menjadi seorang pribadi yang utuh merupakan cerminan dari hubungan antara kedua aspek tersebut. Ciri yang melekat pada keluarga itu dapat di bagi menjadi 2 yakni seabgai berikut:
a. Aspek Internal(corak hubungan antara orang tua dan anak)
            para ahli sepakat bahwa cara meresapnya nilai- nilai sosial ke dalam diri individu dalam awal perkembangan kepriabadiaannya diperoleh melalui hubungan- hubungan  dengan manusia- manusia dewasa, khususnya orang tua. Nilai- nilai dan pola tingkah laku diinternalisasikan ke dalam diri anak hanya bisa tercakup dalam konteks  hubungan yang intensif, melibatkan partisipasi lahir maupun batin, face to face  dan kontinu.
Pola hubungan orang tua anak dapat dibedakan menjadi 3 yaitu:
1) pola menerima- menolak, pola ini didasarkan atas taraf kemesraan orang tua terhadap anak.
2) pola memiliki- melepaskan , pola ini didasarkan atas seberapa besar sikap protektif orang tua terhadap anak. Pola ini bersikap dari sikap orang tua  yang overprotektif dan memiliki anak sampai kepada sikap mengabaikan anak sama sekali.
3) Pola demokrasi- otokrasi, pola ini didasarkan atas taraf partisipasi anak dalam menentukan kegiatan- kegiatan dalam keluarga. Pola otokrasi berarti orang tua bertindak sebagai diktator  terhadap anak, sedangkan pola demokrasi , sampai pada batas- batas tertentu dapat melibatkan dapat melibatkan partispasi anak untuk menentukan keputusan- keputusan keluarga.
            Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang bersuasana demokratis, memiliki karakter perkembangan yang luwes dan dapat menerima kekuasaan secara rasional. Sebaliknya anak yang dibesarkan dalam suasana keluarga otoriter memandang kekuasaan sebagai sesuatu yang harus ditakuti dan bersifat sakral. Tentu saja akibat pola- pola antar anggota keluarga tersebut dapat membentuk suatu wujud kepribadian- kepribadian tertentu kepada sang anak. Dalam pola otoriter misalnya, anak akan berkembang menjadi individu yang penakut atau tunduk kepada peraturan secara membabi buta, bahkan jika hal itu mengisahkan suatu tragedi maka sang anak akan menjadi manusia patologis yang  selalu menentang kekuasaan.
b. Aspek sosial
            aspek ini menyangkut status sosial yang dimiliki oleh keluarga tersebut dalam struktur dan status kehidupan masyarakatnya. Secara internal hubungan orang tua  yang menyandang status pekerjaan dan kedudukan sosial tertentu di dalam masyarakat dapat juga mempengaruhi karakter kepribadian dalam mendidik anak. Menurut penelitian yang dilakukan oleh universitas Chicago sekitar tahun 1940-an menyimpulkan bahwa keluarga  kelas sosial menengah kurang menerapkan hukuman badan, lebih mendorong tercapainya prestasi , dan memberikan tanggung jawab  secara leluasa dan bebas kepada sang anak. Latar belakang perilaku dan pola- pola tindakan yang diterapkan oleh orang tua dalam menerapkan metode interaksi pendidikan terhadap sang anak ternyata  juga merupakan pengaruh dari kelas sosial yang dimiliki oleh keluarga. Salah satu alasan penting yang menimbulkan  perbedaan itu adalah alasan ekonomi.
1) keluarga kelas sosial bawah umumnya memiliki banyak anak, penghasilan kecil, hidup di dalam ruma yang penuh sesak. Dalam kondisi demikian  anak dituntut untuk patuh, tidak boleh ribut , tidak boleh berinisiatif  agar tidak menimbulkan banyak resiko bagi keluarga.  Sebaliknya keluarga kecil, ekonominya lebih baik , keluarga demikian memberi kesempatan kepada anak untuk memiliki inisiatif, apresiasi dan kreatifitas yang cukup tinggi.
2. Orang tua dari kelas bawah memiliki kedudukan pekerjaan yang rendah. Sebagai bawahan mereka terbiasa bersikap patuh dan tunduk pada atasannya. Sikap ini secara tidak sadar terpancar dalam proses mendidik anak- anaknya di rumah.

3.Hubungan Timbal Balik Sekolah-Keluarga Bagi Individu
1.      Pergaulan dalam keluarga
Pada umumnya keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan anak dimana masing-masing anggota keluarga tersebut saling mempengaruhi, saling membutuhkan, semua membutuhkan hubungan intensif antar anggota keluarga. Anak membutuhkan pakaian , makanan, dan bimbingan dari orang tua dan orang tua membutuhkan rasa kebahagian dengan kelahiran anak. Ketika anak tumbuh dewasa  maka dibutuhkan tenaga dan pikirannya untuk membantu orang tua, lebih-lebih bila orang tua makin tidak berdaya karena usia yang sudah lanjut.
Orang tua memiliki peranan pertama dan utama bagi anak-anaknya selama anak belum dewasa dan mampu berdiri sendiri. Untuk membawa anak pada kedewasaan, maka orang tua harus memberi teladan yang baik karena anak suka mengimitasi kepada orang yang lebih tua atau orang tuanya.
Dengan lingkungan pergaulan antara orang tua terhadap anak dan anak itu sendiri dengan anggota keluarga yang lain maka sang anak telah dihadapkan pada suatu kehidupan interaktif yang telah membekalinya kemampuan-kemampuan dasar untuk bertahan hidup baik dari segi fisik maupun nonfisiknya.
2.      Pergaulan di dalam sekolah
Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal, terdiri dari pendidik dan anak didik. Antara mereka telah terjadi hubungan yang berlapis-lapis, baik antara murid dengan guru, murid dengan sesama murid serta murid dengan warga sekolah lainnya.
Guru-guru sebagai pendidik, dengan wibawanya dalam pergaulan membawa murid sebagai anak didik ke arah kedewasaan. Memanfaatkan pergaulan sehari-hari dalam pendidikan adalah cara yang paling baik dan efektif dalam pembentukan pribadi dan dengan cara ini pula maka hilanglah jurang pemisah antara guru dan anak didik.
Hubungan murid dengan murid juga menunjukkan suasana yang edukatif. Sesama murid saling berkawan, berolahraga bersama dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku, saling mengajak dan diajak, saling bercerita, saling mendisiplinkan diri agar tidak menyinggung perasaan teman sepergaulannya.
Dalam lingkungan sekolah seorang individu dihadapkan pula pada pola orientasi kehidupan yang lebih luas. Di mana perangkat-perangkat aktivitas tersebut tidak dia temui di dalam keluarga. Secara prinsipil melihat sekolah sebagai ruang terogarnisasi yang didalamnya terdapat peran-peran yang cukup kompleks maka seluruh siswa telah belajar mengenal orientasi kehidupan menuju pembelajaran dan persiapan untuk menyandang status orang-orang dewasa.
Sekolah merupakan miniature masyarakat yang memiliki peran-peran yang cukup rumit dan menerapkan pola-pola peraturan yang lebih ketat. Tempat dimana proses pengajaran ketrampilan dan macam-macam standar pengetahuan akan diserap dan dipahami oleh siswa untuk memainkan peran kehidupannya pada jenjang kedewasaanya.
3.      Pengaruh keluarga-sekolah terhadap individu
Proses sosialisasi mengidintifikasi dirinya sesuai dengan perkembangan fisik dan emosinya unrtuk diarahkan pada hubungan keselarasan dengan lingkungan eksternal. Pendekatan-pendekatan yang dikembangakan oleh ahli-ahli ilmu social di atas cukup menjelaskan bahwa hasil terbentuknya kepribadian merupakan hasil perwujudan dari dunia luar.
Seiring dengan perkembangan fisik biologisnya individu mendapat perlakuan yang sangat intensif untuk mengembangkan fungsi-fungsi fisik serta kemampuan-kemampuan mental etis yang paling mendasar dari keluarga. Melalui segala aktivitas yang tercakup dalam lingkungan keluarga selain individu menyesuaikan perkembngan fisik sesuai dengan perjalanan usianya, maka bekal mendasar untuk mengembangkannya setelah ia benar-benar merasa memiliki kepribadian secara dewasa.
Selain dari keluarga, dalam perkembangan umur dan mentalnya individu mendapat  pengaruh dari sekolah dan dari masyarakat.
Dalam perkembangan lebih lanjut ketika sang individu sudah cukup memiliki kemampuan untuk melangsungkan aktivitas-aktivitas mendasar sebagai manusia. Ia lalu memasuki suatu wilayah kehidupan luar dari keluarganya. Lingkungan itu tidak lain adalah sekolah. Di dalam sekolah perkembangan kemampuan tidak terbatas pada akomodasi kemampuan-kemampuan mendasar semata. Namun disitu juga telah terbina suatu ruang sosialisasi yang lebih  luas dengan memliki perangkat-perangkat yang cukup lengkap. Peraturan, ketrampilan, ilmu pengetahuan, kebudayaan masyarakat, seni dan estetika, penempaan spiritual, serta wadah kreasi-kreasi yang lebih komplek adalah aspek-aspek khusus dimiliki oleh sekolah dalam menjalankan proses sosialisasi kepada individu.

Kedua lembaga social tersebut selalu beriringan mengisi setiap waktu kehidupan individu dalam aktivitas kesehariannya dengan spesifikasi yang berbeda-beda. Keluarga bertugas menjalankan sosialisasi nilai-nilai dasar kemanusiaan dalam pola hubungan yang afektif. Sementara sekolah serta penempaan kepada individu yang bersisi tentang ilmu pengetahuan, ketrampilan, serta penguasaan-penguasaan peran-peran social yang lebih luas di luar keluarga. Kedua peran pembentukan tersebut lalu membentuk peran individu dalam masyarakat tempat atau wilayah dimana individu itu berada, baik dalam skala mikro maupun makro.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar