Keluarga dan Sosialisasi
1. Pengertian keluarga, peranan
dan fungsi dalam sosialisasi
Lingkungan
keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama, karena dalam keluarga
inilah anak pertama-tama mendapatkan didikan dan bimbingan. Tugas utama dari
keluarga bagi pendidikan anak adalah sebagai peletak dasar bagi pendidikan
akhlak dan pandangan hidup keagamaan. Sifat dan tabiat anak sebagian besar
diambil dari kedua orang tuanya dan dari anggota kelurga yang lain.
Maka dari itu dapat dirumuskan
intisari pengertian keluarga, yaitu :
a. Keluarga merupakan kelompok sosial kecil yang umumnya terdiri
atas ayah, ibu dan anak.
b. Hubungan sosial diantara keluarga relatif tetap dan
didasarkan atas ikatan darah, perkawinan dan adopsi.
c. Hubungan antar anggota keluarga dijiwai oleh suasana
afeksi dan rasa tanggung jawab.
d. Fungsi keluarga adalah memelihara, merawat dan melindungi
anak dalam rangka sosialisasinya agar mereka mampu mengendalikan diri dan
berjiwa sosial.
Dengan
demikian terlihat betapa besar tanggung jawab orang tua kepada sang anak. Bagi
sang anak, keluarga merupakan persekutuan hidup pada lingkungan keluarga tempat
dimana ia menjadi diri pribadi.
1. Perkembangan Fungsi dan Peranan Keluarga
Keluarga merupakan institusi
sosial yang bersifat universal dan multifungsional. Fungsi pengawasan, sosial,
pendidikan, keagaamaan, perlindungan, dan rekreasi dilakukan oleh keluarga
terhadap anggota-anggotanya.
Menurut Vembriarto (1990) ada 3
macam fungsi yang tetap melekat sebagai ciri hakiki keluarga:
a. Fungsi Biologis
Fungsi biologis orang tua adalah melahirkan
anak. Fungsi ini merupakan dasar kelangsungan hidup masyarakat. Namun fungsi
ini cenderung mengalami perubahan. Sekarang, keluarga memiliki jumlah anak yang
sedikit. Faktornya yaitu : (1) Perubahan tempat tinggal keluarga dari desa ke
kota, (2) makin sulitnya fasilitas perumahan, (3) banyaknya anak dipandang
sebagai penghalang kesuksesan material keluarga, (4) banyaknya anak dipandang
sebagai penghalang kemesraan keluarga, (5) meningkatnya taraf pendidikan wanita
berakibat berkurangnya kesuburan kandungan, (6) menipisnya pengaruhajaran
agama, (7) makin banyaknya ibu-ibu yang bekerja di luar rumah, (8) makin
meluasnya penggunaan alat kontrasepsi.
b. Fungsi Afeksi
Hubungan afektif ini tumbuh sebagai akibat
hubungan cinta kasih yang menjadi dasar perkawinan. Dari hubungan cinta kasih
lahirlah hubungan persaudaraan, persahabatan, kebiasaan, identifikasi,
persamaan pandangan mengenai nilai-nilai. Dasar cinta kasih dan hubungan
afektif ini merupakan faktor penting bagi perkembangan anak.
c. Fungsi Sosialisasi
Fungsi ini menunjuk peranan keluarga dalam
membentuk kepribadian anak. Melalui interaksi sosial dalam keluarga itu anak
mempelajari pola-pola tingkah laku, sikap, keyakinan, cita-cita dan nilai-nilai
dalam masyarakat dalam proses perkembangan pribadinya.
Oleh karena itu, disini akan dipaparkan
fungsi-fungsi keluarga yang mengalami pergeseran sebagai akibat pengaruh dari
gencarnya perubahan sosial yang melingkupi aktifitas-aktifitasnya.
Fungsi-fungsi sosial yang mengalami perubahan antara lain :
Ø
Fungsi Pendidikan
Fungsi pendidikan keluarga ini telah
mengalami perubahan. Secara informal fungsi pendidikan keluarga masih tetap
penting,, namun secara formal sudah diambil alih oleh sekolah.
Ø
Fungsi Rekreasi
Dulu, keluarga merupakan rekreasi bagi
anggota keluarganya. Sekarang rekreasi berada diluar keluarga, seperti mall,
bioskop, taman dll. Perubahan tersebut menimbulkan 2 akibat, yaitu jenis-jenis
rekreasi keluarga menjadi lwbih bervariasi dan anggota keluarga cenderung
mencari hiburan diluar keluarga.
Ø
Fungsi Keagamaan
Dulu, keluarga merupakan pusat pendidikan
upacara ritual dan ibadah agama bagi para anggotanya. Namun sekarang berubah
karena adanya proses sekulerisasi dalam masyarakat dan merosotnya pengaruh
institusi agama.
Ø
Fungsi Perlindungan
Dahulu keluarga berfungsi memberikan
perlindungan kepada anggotanya. Sekarang banyak fungsi perlindungan dan
perawatan diambil alih oleh badan-badan sosial.
2. Keluarga sebagai kelompok primer
Proses perubahan masyarakat dari masyarakat
agraris yang masih tradisional ke arah masyarakat industri yang bernuansa
modern telah mempengaruhi perubahan organisasi keluarga merupakan institusi
yang paling pengaruhnya terhadap proses sosialisasi individu atau seseorang.
Kondisi-
kondisi yang menyebabkan pentingnya peranan keluarga dalam proses sosialisasi
anak ialah:
a. keluarga merupakan kelompok kecil yang
anggota- anggotanya berinteraksi face to face
secara tetap. Dalam kelompok yang demikian perkembangan anak dapat
diikuti dengan seksama oleh orang tuanya dan penyesuaian secara pribadi dalam hubungan secara pribadi dalam hubungan
sosial lebih mudah terjadi.
b. orang tua mempunyai motivasi yang kuat
untuk mendidik anak karena merupakan
buah cinta kasih hubungan suami isteri. Anak merupakan perluasan biologis dan sosial orang tuanya .
motivasi kuat ini melahirkan hubungan emosional antara orang tua dan anak.
Penelitian- penelitian membuktikan bahwa
hubungan emosional lebih berarti dan efektif
daripada hubungan intelektual dalam proses sosialisasi.
c. oleh karena hubungan sosial di dalam
keluarga itu bersifat relatif tetap, maka orang tua memainkan peranan sangat
penting terhadap proses sosialisasi anak.
Keluarga
sebagaii lembaga pertama dan utama yang memberikan pendidikan kepada individu
secara lahir dan batin untuk tumbuh dan berkembang hingga sang anak menginjak
dewasa . dalam hal ini beberapa aspek tujuan sosialisasi yang dilaksanakan oleh
keluarga untuk masyarakat modern seperti mengajarkan bermacam- macam ketrampilan, telah
diambil alih oleh lembaga sekolah atau
institusi sosial yang lain.
2. Tujuan sosialisasi dalam keluarga
Secara
mendasar terdapat tiga tujuan sosilalisasi di dalam keluarga, yakni sebagai
berikut:
a. penguasaan diri
masyarakat menuntut penguasaan diri pada
anggota- anggotanya. Proses mengajar anak untuk menguasai diri ini dimulai pada
waktu orang tua melatih anak untuk memelihara kebersihan dirinya. Ini merupakan
tuntunan sosial pertama yang dialami oleh anak untuk laatihan penguasaan diri.
Tuntunan penguasaan diri ini berkembang, dari yang bersifat fisik kepada
penguasaan diri secara emosional. Anak harus menahan kemarahannya terhadap
orang tua atau saudara- saudaranya.
Tuntunan sosial yang menuntut agar anak menguasai diri merupakan
pelajaran yang berat bagi anak.
b. nilai- nilai
bersama- sama dengan proses berlatih
penguasaan diri ini kepada anak diajarkan nilai- nilai. Penelitian- penelitian
menunjukkan bahwa nilai- nilai dasar
dalam diri seseorang terbentuk pada usia 6 tahun. Di dalam perkembangan usia
tersebut keluarga memegang peranan terpenting dalam menanamkan nilai- nilai.
Sebagai contoh melatih anak menguasai diri agar permainannya dapat dipinjamkan
kepada temannya, maka disitu dapat muncul suatu makna tentang arti dari kerja
sama. Mengajarkan anak menguasai diri
agar tidak bermain- main dahulu sebelum menyelesaikan pekerjaan rumahnya maka
di situ mengndung ajaran tentang nilai sukses dalam pekerjaan.
c. peran- peran sosial
mempelajari peran- peran sosial ini terjadi
melalui interaksi sosial dalam keluarga. Setelah dalam diri anak berkembang
kesadaran diri sendiri yang membedakan dirinya dengan orang lain, dia mulai
mempelajari peranan- peranan sosial yang sesuai dengan gambaran tentang
dirinya. Dia mempelajari peranannya sebagai anak , sebagai saudara, sebagai
laki- laki atau perempuan dan sebagainya. Proses mempelajari peran- peran
sosial ini kemudian dilanjutkan di lingkungan kelompok sebaya, sekolah
perkumpulan- perkumpulan dan lain sebagainya.
Ciri yang melekat pada keluarga
Keluarga
merupakan lingkup kehidupan yang paling berpengaruh terhadap perjalanan seorang
individu, maka peran keluarga dalam hubungan sosialisasi anak juga
dipengaruhi oleh ciri yang melekat di
dalam keluarga tersebut. Anak yang tumbuh kembang menjadi seorang pribadi yang
utuh merupakan cerminan dari hubungan antara kedua aspek tersebut. Ciri yang
melekat pada keluarga itu dapat di bagi menjadi 2 yakni seabgai berikut:
a. Aspek Internal(corak hubungan antara
orang tua dan anak)
para
ahli sepakat bahwa cara meresapnya nilai- nilai sosial ke dalam diri individu
dalam awal perkembangan kepriabadiaannya diperoleh melalui hubungan-
hubungan dengan manusia- manusia dewasa,
khususnya orang tua. Nilai- nilai dan pola tingkah laku diinternalisasikan ke
dalam diri anak hanya bisa tercakup dalam konteks hubungan yang intensif, melibatkan
partisipasi lahir maupun batin, face to face
dan kontinu.
Pola hubungan orang tua anak dapat
dibedakan menjadi 3 yaitu:
1) pola menerima- menolak, pola ini
didasarkan atas taraf kemesraan orang tua terhadap anak.
2) pola memiliki- melepaskan , pola ini
didasarkan atas seberapa besar sikap protektif orang tua terhadap anak. Pola
ini bersikap dari sikap orang tua yang
overprotektif dan memiliki anak sampai kepada sikap mengabaikan anak sama
sekali.
3) Pola demokrasi- otokrasi, pola ini
didasarkan atas taraf partisipasi anak dalam menentukan kegiatan- kegiatan
dalam keluarga. Pola otokrasi berarti orang tua bertindak sebagai diktator terhadap anak, sedangkan pola demokrasi ,
sampai pada batas- batas tertentu dapat melibatkan dapat melibatkan partispasi
anak untuk menentukan keputusan- keputusan keluarga.
Anak
yang dibesarkan dalam keluarga yang bersuasana demokratis, memiliki karakter
perkembangan yang luwes dan dapat menerima kekuasaan secara rasional.
Sebaliknya anak yang dibesarkan dalam suasana keluarga otoriter memandang
kekuasaan sebagai sesuatu yang harus ditakuti dan bersifat sakral. Tentu saja
akibat pola- pola antar anggota keluarga tersebut dapat membentuk suatu wujud
kepribadian- kepribadian tertentu kepada sang anak. Dalam pola otoriter
misalnya, anak akan berkembang menjadi individu yang penakut atau tunduk kepada
peraturan secara membabi buta, bahkan jika hal itu mengisahkan suatu tragedi
maka sang anak akan menjadi manusia patologis yang selalu menentang kekuasaan.
b. Aspek sosial
aspek
ini menyangkut status sosial yang dimiliki oleh keluarga tersebut dalam
struktur dan status kehidupan masyarakatnya. Secara internal hubungan orang
tua yang menyandang status pekerjaan dan
kedudukan sosial tertentu di dalam masyarakat dapat juga mempengaruhi karakter
kepribadian dalam mendidik anak. Menurut penelitian yang dilakukan oleh
universitas Chicago sekitar tahun 1940-an menyimpulkan bahwa keluarga kelas sosial menengah kurang menerapkan
hukuman badan, lebih mendorong tercapainya prestasi , dan memberikan tanggung
jawab secara leluasa dan bebas kepada
sang anak. Latar belakang perilaku dan pola- pola tindakan yang diterapkan oleh
orang tua dalam menerapkan metode interaksi pendidikan terhadap sang anak
ternyata juga merupakan pengaruh dari
kelas sosial yang dimiliki oleh keluarga. Salah satu alasan penting yang
menimbulkan perbedaan itu adalah alasan
ekonomi.
1) keluarga kelas sosial bawah umumnya
memiliki banyak anak, penghasilan kecil, hidup di dalam ruma yang penuh sesak.
Dalam kondisi demikian anak dituntut
untuk patuh, tidak boleh ribut , tidak boleh berinisiatif agar tidak menimbulkan banyak resiko bagi
keluarga. Sebaliknya keluarga kecil,
ekonominya lebih baik , keluarga demikian memberi kesempatan kepada anak untuk
memiliki inisiatif, apresiasi dan kreatifitas yang cukup tinggi.
2. Orang tua dari kelas bawah memiliki
kedudukan pekerjaan yang rendah. Sebagai bawahan mereka terbiasa bersikap patuh
dan tunduk pada atasannya. Sikap ini secara tidak sadar terpancar dalam proses
mendidik anak- anaknya di rumah.
3.Hubungan Timbal Balik Sekolah-Keluarga
Bagi Individu
1. Pergaulan dalam keluarga
Pada umumnya keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan anak
dimana masing-masing anggota keluarga tersebut saling mempengaruhi, saling
membutuhkan, semua membutuhkan hubungan intensif antar anggota keluarga. Anak
membutuhkan pakaian , makanan, dan bimbingan dari orang tua dan orang tua
membutuhkan rasa kebahagian dengan kelahiran anak. Ketika anak tumbuh
dewasa maka dibutuhkan tenaga dan
pikirannya untuk membantu orang tua, lebih-lebih bila orang tua makin tidak
berdaya karena usia yang sudah lanjut.
Orang tua memiliki peranan pertama dan utama bagi
anak-anaknya selama anak belum dewasa dan mampu berdiri sendiri. Untuk membawa
anak pada kedewasaan, maka orang tua harus memberi teladan yang baik karena
anak suka mengimitasi kepada orang yang lebih tua atau orang tuanya.
Dengan lingkungan pergaulan antara orang tua terhadap
anak dan anak itu sendiri dengan anggota keluarga yang lain maka sang anak
telah dihadapkan pada suatu kehidupan interaktif yang telah membekalinya
kemampuan-kemampuan dasar untuk bertahan hidup baik dari segi fisik maupun
nonfisiknya.
2. Pergaulan di dalam sekolah
Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal, terdiri dari
pendidik dan anak didik. Antara mereka telah terjadi hubungan yang berlapis-lapis,
baik antara murid dengan guru, murid dengan sesama murid serta murid dengan
warga sekolah lainnya.
Guru-guru sebagai pendidik, dengan wibawanya dalam
pergaulan membawa murid sebagai anak didik ke arah kedewasaan. Memanfaatkan
pergaulan sehari-hari dalam pendidikan adalah cara yang paling baik dan efektif
dalam pembentukan pribadi dan dengan cara ini pula maka hilanglah jurang
pemisah antara guru dan anak didik.
Hubungan murid dengan murid juga menunjukkan suasana yang
edukatif. Sesama murid saling berkawan, berolahraga bersama dengan
ketentuan-ketentuan yang berlaku, saling mengajak dan diajak, saling bercerita,
saling mendisiplinkan diri agar tidak menyinggung perasaan teman
sepergaulannya.
Dalam lingkungan sekolah seorang individu dihadapkan pula
pada pola orientasi kehidupan yang lebih luas. Di mana perangkat-perangkat
aktivitas tersebut tidak dia temui di dalam keluarga. Secara prinsipil melihat
sekolah sebagai ruang terogarnisasi yang didalamnya terdapat peran-peran yang
cukup kompleks maka seluruh siswa telah belajar mengenal orientasi kehidupan
menuju pembelajaran dan persiapan untuk menyandang status orang-orang dewasa.
Sekolah merupakan miniature masyarakat yang memiliki
peran-peran yang cukup rumit dan menerapkan pola-pola peraturan yang lebih
ketat. Tempat dimana proses pengajaran ketrampilan dan macam-macam standar
pengetahuan akan diserap dan dipahami oleh siswa untuk memainkan peran
kehidupannya pada jenjang kedewasaanya.
3. Pengaruh keluarga-sekolah terhadap individu
Proses sosialisasi mengidintifikasi dirinya sesuai dengan
perkembangan fisik dan emosinya unrtuk diarahkan pada hubungan keselarasan
dengan lingkungan eksternal. Pendekatan-pendekatan yang dikembangakan oleh
ahli-ahli ilmu social di atas cukup menjelaskan bahwa hasil terbentuknya
kepribadian merupakan hasil perwujudan dari dunia luar.
Seiring dengan perkembangan fisik biologisnya individu
mendapat perlakuan yang sangat intensif untuk mengembangkan fungsi-fungsi fisik
serta kemampuan-kemampuan mental etis yang paling mendasar dari keluarga.
Melalui segala aktivitas yang tercakup dalam lingkungan keluarga selain
individu menyesuaikan perkembngan fisik sesuai dengan perjalanan usianya, maka
bekal mendasar untuk mengembangkannya setelah ia benar-benar merasa memiliki
kepribadian secara dewasa.
Selain dari keluarga, dalam perkembangan umur dan
mentalnya individu mendapat pengaruh
dari sekolah dan dari masyarakat.
Dalam perkembangan lebih lanjut ketika sang individu
sudah cukup memiliki kemampuan untuk melangsungkan aktivitas-aktivitas mendasar
sebagai manusia. Ia lalu memasuki suatu wilayah kehidupan luar dari
keluarganya. Lingkungan itu tidak lain adalah sekolah. Di dalam sekolah
perkembangan kemampuan tidak terbatas pada akomodasi kemampuan-kemampuan
mendasar semata. Namun disitu juga telah terbina suatu ruang sosialisasi yang
lebih luas dengan memliki
perangkat-perangkat yang cukup lengkap. Peraturan, ketrampilan, ilmu
pengetahuan, kebudayaan masyarakat, seni dan estetika, penempaan spiritual,
serta wadah kreasi-kreasi yang lebih komplek adalah aspek-aspek khusus dimiliki
oleh sekolah dalam menjalankan proses sosialisasi kepada individu.
Kedua lembaga social tersebut selalu beriringan mengisi
setiap waktu kehidupan individu dalam aktivitas kesehariannya dengan
spesifikasi yang berbeda-beda. Keluarga bertugas menjalankan sosialisasi
nilai-nilai dasar kemanusiaan dalam pola hubungan yang afektif. Sementara
sekolah serta penempaan kepada individu yang bersisi tentang ilmu pengetahuan,
ketrampilan, serta penguasaan-penguasaan peran-peran social yang lebih luas di
luar keluarga. Kedua peran pembentukan tersebut lalu membentuk peran individu
dalam masyarakat tempat atau wilayah dimana individu itu berada, baik dalam
skala mikro maupun makro.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar