Kamis, 17 Oktober 2013

Keluarga dan Sosialisasi

1. Pengertian keluarga, peranan dan fungsi dalam sosialisasi
            Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan didikan dan bimbingan. Tugas utama dari keluarga bagi pendidikan anak adalah sebagai peletak dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan. Sifat dan tabiat anak sebagian besar diambil dari kedua orang tuanya dan dari anggota kelurga yang lain.
Maka dari itu dapat dirumuskan intisari pengertian keluarga, yaitu :
a.       Keluarga merupakan kelompok sosial kecil yang umumnya terdiri atas ayah, ibu dan anak.
b.      Hubungan sosial diantara keluarga relatif tetap dan didasarkan atas ikatan darah, perkawinan dan adopsi.
c.       Hubungan antar anggota keluarga dijiwai oleh suasana afeksi dan rasa tanggung jawab.
d.      Fungsi keluarga adalah memelihara, merawat dan melindungi anak dalam rangka sosialisasinya agar mereka mampu mengendalikan diri dan berjiwa sosial.
            Dengan demikian terlihat betapa besar tanggung jawab orang tua kepada sang anak. Bagi sang anak, keluarga merupakan persekutuan hidup pada lingkungan keluarga tempat dimana ia menjadi diri pribadi.
1.      Perkembangan Fungsi dan Peranan Keluarga
Keluarga merupakan institusi sosial yang bersifat universal dan multifungsional. Fungsi pengawasan, sosial, pendidikan, keagaamaan, perlindungan, dan rekreasi dilakukan oleh keluarga terhadap anggota-anggotanya.
Menurut Vembriarto (1990) ada 3 macam fungsi yang tetap melekat sebagai ciri hakiki keluarga:
a.       Fungsi Biologis
Fungsi biologis orang tua adalah melahirkan anak. Fungsi ini merupakan dasar kelangsungan hidup masyarakat. Namun fungsi ini cenderung mengalami perubahan. Sekarang, keluarga memiliki jumlah anak yang sedikit. Faktornya yaitu : (1) Perubahan tempat tinggal keluarga dari desa ke kota, (2) makin sulitnya fasilitas perumahan, (3) banyaknya anak dipandang sebagai penghalang kesuksesan material keluarga, (4) banyaknya anak dipandang sebagai penghalang kemesraan keluarga, (5) meningkatnya taraf pendidikan wanita berakibat berkurangnya kesuburan kandungan, (6) menipisnya pengaruhajaran agama, (7) makin banyaknya ibu-ibu yang bekerja di luar rumah, (8) makin meluasnya penggunaan alat kontrasepsi.
b.      Fungsi Afeksi
Hubungan afektif ini tumbuh sebagai akibat hubungan cinta kasih yang menjadi dasar perkawinan. Dari hubungan cinta kasih lahirlah hubungan persaudaraan, persahabatan, kebiasaan, identifikasi, persamaan pandangan mengenai nilai-nilai. Dasar cinta kasih dan hubungan afektif ini merupakan faktor penting bagi perkembangan anak.
c.       Fungsi Sosialisasi
Fungsi ini menunjuk peranan keluarga dalam membentuk kepribadian anak. Melalui interaksi sosial dalam keluarga itu anak mempelajari pola-pola tingkah laku, sikap, keyakinan, cita-cita dan nilai-nilai dalam masyarakat dalam proses perkembangan pribadinya.
Oleh karena itu, disini akan dipaparkan fungsi-fungsi keluarga yang mengalami pergeseran sebagai akibat pengaruh dari gencarnya perubahan sosial yang melingkupi aktifitas-aktifitasnya. Fungsi-fungsi sosial yang mengalami perubahan antara lain :
Ø  Fungsi Pendidikan
Fungsi pendidikan keluarga ini telah mengalami perubahan. Secara informal fungsi pendidikan keluarga masih tetap penting,, namun secara formal sudah diambil alih oleh sekolah.
Ø  Fungsi Rekreasi
Dulu, keluarga merupakan rekreasi bagi anggota keluarganya. Sekarang rekreasi berada diluar keluarga, seperti mall, bioskop, taman dll. Perubahan tersebut menimbulkan 2 akibat, yaitu jenis-jenis rekreasi keluarga menjadi lwbih bervariasi dan anggota keluarga cenderung mencari hiburan diluar keluarga.
Ø  Fungsi Keagamaan
Dulu, keluarga merupakan pusat pendidikan upacara ritual dan ibadah agama bagi para anggotanya. Namun sekarang berubah karena adanya proses sekulerisasi dalam masyarakat dan merosotnya pengaruh institusi agama.
Ø  Fungsi Perlindungan
Dahulu keluarga berfungsi memberikan perlindungan kepada anggotanya. Sekarang banyak fungsi perlindungan dan perawatan diambil alih oleh badan-badan sosial.
2. Keluarga sebagai kelompok primer
Proses perubahan masyarakat dari masyarakat agraris yang masih tradisional ke arah masyarakat industri yang bernuansa modern telah mempengaruhi perubahan organisasi keluarga merupakan institusi yang paling pengaruhnya terhadap proses sosialisasi individu atau seseorang.
            Kondisi- kondisi yang menyebabkan pentingnya peranan keluarga dalam proses sosialisasi anak ialah:
a. keluarga merupakan kelompok kecil yang anggota- anggotanya berinteraksi face to face   secara tetap. Dalam kelompok yang demikian perkembangan anak dapat diikuti dengan seksama oleh orang tuanya dan penyesuaian secara pribadi  dalam hubungan secara pribadi dalam hubungan sosial lebih mudah terjadi.
b. orang tua mempunyai motivasi yang kuat untuk mendidik  anak karena merupakan buah cinta kasih hubungan suami isteri. Anak merupakan  perluasan biologis dan sosial orang tuanya . motivasi kuat ini melahirkan hubungan emosional antara orang tua dan anak. Penelitian- penelitian  membuktikan bahwa hubungan emosional lebih berarti dan efektif  daripada hubungan intelektual dalam proses sosialisasi.
c. oleh karena hubungan sosial di dalam keluarga itu bersifat relatif tetap, maka orang tua memainkan peranan sangat penting terhadap proses sosialisasi anak.
            Keluarga sebagaii lembaga pertama dan utama yang memberikan pendidikan kepada individu secara lahir dan batin untuk tumbuh dan berkembang hingga sang anak menginjak dewasa . dalam hal ini beberapa aspek tujuan sosialisasi yang dilaksanakan oleh keluarga untuk masyarakat modern seperti mengajarkan  bermacam- macam ketrampilan, telah diambil  alih oleh lembaga sekolah atau institusi sosial yang lain.
2. Tujuan sosialisasi dalam keluarga
            Secara mendasar terdapat tiga tujuan sosilalisasi di dalam keluarga, yakni sebagai berikut:
a. penguasaan diri
masyarakat menuntut penguasaan diri pada anggota- anggotanya. Proses mengajar anak untuk menguasai diri ini dimulai pada waktu orang tua melatih anak untuk memelihara kebersihan dirinya. Ini merupakan tuntunan sosial pertama yang dialami oleh anak untuk laatihan penguasaan diri. Tuntunan penguasaan diri ini berkembang, dari yang bersifat fisik kepada penguasaan diri secara emosional. Anak harus menahan kemarahannya terhadap orang tua atau saudara- saudaranya.  Tuntunan sosial yang menuntut agar anak menguasai diri merupakan pelajaran yang berat bagi anak.
b. nilai- nilai
bersama- sama dengan proses berlatih penguasaan diri ini kepada anak diajarkan nilai- nilai. Penelitian- penelitian menunjukkan bahwa nilai- nilai  dasar dalam diri seseorang terbentuk pada usia 6 tahun. Di dalam perkembangan usia tersebut keluarga memegang peranan terpenting dalam menanamkan nilai- nilai. Sebagai contoh melatih anak menguasai diri agar permainannya dapat dipinjamkan kepada temannya, maka disitu dapat muncul suatu makna tentang arti dari kerja sama. Mengajarkan  anak menguasai diri agar tidak bermain- main dahulu sebelum menyelesaikan pekerjaan rumahnya maka di situ mengndung ajaran tentang nilai sukses dalam pekerjaan.
c. peran- peran sosial
mempelajari peran- peran sosial ini terjadi melalui interaksi sosial dalam keluarga. Setelah dalam diri anak berkembang kesadaran diri sendiri yang membedakan dirinya dengan orang lain, dia mulai mempelajari peranan- peranan sosial yang sesuai dengan gambaran tentang dirinya. Dia mempelajari peranannya sebagai anak , sebagai saudara, sebagai laki- laki atau perempuan dan sebagainya. Proses mempelajari peran- peran sosial ini kemudian dilanjutkan di lingkungan kelompok sebaya, sekolah perkumpulan- perkumpulan dan lain sebagainya.
Ciri yang melekat pada keluarga
            Keluarga merupakan lingkup kehidupan yang paling berpengaruh terhadap perjalanan seorang individu, maka peran keluarga dalam hubungan sosialisasi anak juga dipengaruhi  oleh ciri yang melekat di dalam keluarga tersebut. Anak yang tumbuh kembang menjadi seorang pribadi yang utuh merupakan cerminan dari hubungan antara kedua aspek tersebut. Ciri yang melekat pada keluarga itu dapat di bagi menjadi 2 yakni seabgai berikut:
a. Aspek Internal(corak hubungan antara orang tua dan anak)
            para ahli sepakat bahwa cara meresapnya nilai- nilai sosial ke dalam diri individu dalam awal perkembangan kepriabadiaannya diperoleh melalui hubungan- hubungan  dengan manusia- manusia dewasa, khususnya orang tua. Nilai- nilai dan pola tingkah laku diinternalisasikan ke dalam diri anak hanya bisa tercakup dalam konteks  hubungan yang intensif, melibatkan partisipasi lahir maupun batin, face to face  dan kontinu.
Pola hubungan orang tua anak dapat dibedakan menjadi 3 yaitu:
1) pola menerima- menolak, pola ini didasarkan atas taraf kemesraan orang tua terhadap anak.
2) pola memiliki- melepaskan , pola ini didasarkan atas seberapa besar sikap protektif orang tua terhadap anak. Pola ini bersikap dari sikap orang tua  yang overprotektif dan memiliki anak sampai kepada sikap mengabaikan anak sama sekali.
3) Pola demokrasi- otokrasi, pola ini didasarkan atas taraf partisipasi anak dalam menentukan kegiatan- kegiatan dalam keluarga. Pola otokrasi berarti orang tua bertindak sebagai diktator  terhadap anak, sedangkan pola demokrasi , sampai pada batas- batas tertentu dapat melibatkan dapat melibatkan partispasi anak untuk menentukan keputusan- keputusan keluarga.
            Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang bersuasana demokratis, memiliki karakter perkembangan yang luwes dan dapat menerima kekuasaan secara rasional. Sebaliknya anak yang dibesarkan dalam suasana keluarga otoriter memandang kekuasaan sebagai sesuatu yang harus ditakuti dan bersifat sakral. Tentu saja akibat pola- pola antar anggota keluarga tersebut dapat membentuk suatu wujud kepribadian- kepribadian tertentu kepada sang anak. Dalam pola otoriter misalnya, anak akan berkembang menjadi individu yang penakut atau tunduk kepada peraturan secara membabi buta, bahkan jika hal itu mengisahkan suatu tragedi maka sang anak akan menjadi manusia patologis yang  selalu menentang kekuasaan.
b. Aspek sosial
            aspek ini menyangkut status sosial yang dimiliki oleh keluarga tersebut dalam struktur dan status kehidupan masyarakatnya. Secara internal hubungan orang tua  yang menyandang status pekerjaan dan kedudukan sosial tertentu di dalam masyarakat dapat juga mempengaruhi karakter kepribadian dalam mendidik anak. Menurut penelitian yang dilakukan oleh universitas Chicago sekitar tahun 1940-an menyimpulkan bahwa keluarga  kelas sosial menengah kurang menerapkan hukuman badan, lebih mendorong tercapainya prestasi , dan memberikan tanggung jawab  secara leluasa dan bebas kepada sang anak. Latar belakang perilaku dan pola- pola tindakan yang diterapkan oleh orang tua dalam menerapkan metode interaksi pendidikan terhadap sang anak ternyata  juga merupakan pengaruh dari kelas sosial yang dimiliki oleh keluarga. Salah satu alasan penting yang menimbulkan  perbedaan itu adalah alasan ekonomi.
1) keluarga kelas sosial bawah umumnya memiliki banyak anak, penghasilan kecil, hidup di dalam ruma yang penuh sesak. Dalam kondisi demikian  anak dituntut untuk patuh, tidak boleh ribut , tidak boleh berinisiatif  agar tidak menimbulkan banyak resiko bagi keluarga.  Sebaliknya keluarga kecil, ekonominya lebih baik , keluarga demikian memberi kesempatan kepada anak untuk memiliki inisiatif, apresiasi dan kreatifitas yang cukup tinggi.
2. Orang tua dari kelas bawah memiliki kedudukan pekerjaan yang rendah. Sebagai bawahan mereka terbiasa bersikap patuh dan tunduk pada atasannya. Sikap ini secara tidak sadar terpancar dalam proses mendidik anak- anaknya di rumah.

3.Hubungan Timbal Balik Sekolah-Keluarga Bagi Individu
1.      Pergaulan dalam keluarga
Pada umumnya keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan anak dimana masing-masing anggota keluarga tersebut saling mempengaruhi, saling membutuhkan, semua membutuhkan hubungan intensif antar anggota keluarga. Anak membutuhkan pakaian , makanan, dan bimbingan dari orang tua dan orang tua membutuhkan rasa kebahagian dengan kelahiran anak. Ketika anak tumbuh dewasa  maka dibutuhkan tenaga dan pikirannya untuk membantu orang tua, lebih-lebih bila orang tua makin tidak berdaya karena usia yang sudah lanjut.
Orang tua memiliki peranan pertama dan utama bagi anak-anaknya selama anak belum dewasa dan mampu berdiri sendiri. Untuk membawa anak pada kedewasaan, maka orang tua harus memberi teladan yang baik karena anak suka mengimitasi kepada orang yang lebih tua atau orang tuanya.
Dengan lingkungan pergaulan antara orang tua terhadap anak dan anak itu sendiri dengan anggota keluarga yang lain maka sang anak telah dihadapkan pada suatu kehidupan interaktif yang telah membekalinya kemampuan-kemampuan dasar untuk bertahan hidup baik dari segi fisik maupun nonfisiknya.
2.      Pergaulan di dalam sekolah
Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal, terdiri dari pendidik dan anak didik. Antara mereka telah terjadi hubungan yang berlapis-lapis, baik antara murid dengan guru, murid dengan sesama murid serta murid dengan warga sekolah lainnya.
Guru-guru sebagai pendidik, dengan wibawanya dalam pergaulan membawa murid sebagai anak didik ke arah kedewasaan. Memanfaatkan pergaulan sehari-hari dalam pendidikan adalah cara yang paling baik dan efektif dalam pembentukan pribadi dan dengan cara ini pula maka hilanglah jurang pemisah antara guru dan anak didik.
Hubungan murid dengan murid juga menunjukkan suasana yang edukatif. Sesama murid saling berkawan, berolahraga bersama dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku, saling mengajak dan diajak, saling bercerita, saling mendisiplinkan diri agar tidak menyinggung perasaan teman sepergaulannya.
Dalam lingkungan sekolah seorang individu dihadapkan pula pada pola orientasi kehidupan yang lebih luas. Di mana perangkat-perangkat aktivitas tersebut tidak dia temui di dalam keluarga. Secara prinsipil melihat sekolah sebagai ruang terogarnisasi yang didalamnya terdapat peran-peran yang cukup kompleks maka seluruh siswa telah belajar mengenal orientasi kehidupan menuju pembelajaran dan persiapan untuk menyandang status orang-orang dewasa.
Sekolah merupakan miniature masyarakat yang memiliki peran-peran yang cukup rumit dan menerapkan pola-pola peraturan yang lebih ketat. Tempat dimana proses pengajaran ketrampilan dan macam-macam standar pengetahuan akan diserap dan dipahami oleh siswa untuk memainkan peran kehidupannya pada jenjang kedewasaanya.
3.      Pengaruh keluarga-sekolah terhadap individu
Proses sosialisasi mengidintifikasi dirinya sesuai dengan perkembangan fisik dan emosinya unrtuk diarahkan pada hubungan keselarasan dengan lingkungan eksternal. Pendekatan-pendekatan yang dikembangakan oleh ahli-ahli ilmu social di atas cukup menjelaskan bahwa hasil terbentuknya kepribadian merupakan hasil perwujudan dari dunia luar.
Seiring dengan perkembangan fisik biologisnya individu mendapat perlakuan yang sangat intensif untuk mengembangkan fungsi-fungsi fisik serta kemampuan-kemampuan mental etis yang paling mendasar dari keluarga. Melalui segala aktivitas yang tercakup dalam lingkungan keluarga selain individu menyesuaikan perkembngan fisik sesuai dengan perjalanan usianya, maka bekal mendasar untuk mengembangkannya setelah ia benar-benar merasa memiliki kepribadian secara dewasa.
Selain dari keluarga, dalam perkembangan umur dan mentalnya individu mendapat  pengaruh dari sekolah dan dari masyarakat.
Dalam perkembangan lebih lanjut ketika sang individu sudah cukup memiliki kemampuan untuk melangsungkan aktivitas-aktivitas mendasar sebagai manusia. Ia lalu memasuki suatu wilayah kehidupan luar dari keluarganya. Lingkungan itu tidak lain adalah sekolah. Di dalam sekolah perkembangan kemampuan tidak terbatas pada akomodasi kemampuan-kemampuan mendasar semata. Namun disitu juga telah terbina suatu ruang sosialisasi yang lebih  luas dengan memliki perangkat-perangkat yang cukup lengkap. Peraturan, ketrampilan, ilmu pengetahuan, kebudayaan masyarakat, seni dan estetika, penempaan spiritual, serta wadah kreasi-kreasi yang lebih komplek adalah aspek-aspek khusus dimiliki oleh sekolah dalam menjalankan proses sosialisasi kepada individu.

Kedua lembaga social tersebut selalu beriringan mengisi setiap waktu kehidupan individu dalam aktivitas kesehariannya dengan spesifikasi yang berbeda-beda. Keluarga bertugas menjalankan sosialisasi nilai-nilai dasar kemanusiaan dalam pola hubungan yang afektif. Sementara sekolah serta penempaan kepada individu yang bersisi tentang ilmu pengetahuan, ketrampilan, serta penguasaan-penguasaan peran-peran social yang lebih luas di luar keluarga. Kedua peran pembentukan tersebut lalu membentuk peran individu dalam masyarakat tempat atau wilayah dimana individu itu berada, baik dalam skala mikro maupun makro.
PENGERTIAN PENDIDIKAN & TENAGA KEPENDIDIKAN (UNSUR-UNSUR PENDIDIKAN, PENGERTIAN PENDIDIK DAN GURU)


  Konsep Dasar Pendidikan
a.       Definisi Pendidikan.
Pengertian pendidikan menurut tinjauan etimologis dan tinjauan terminologis sebagai berikut :
1.      Tinjauan etimologis
a.    Pedagogic.
Pedagogic merupakan rangkaian dari dua kata dari bahasa yunani: pias (anak) dan ago (saya membimbing) dengan demikian pedagogic berarti saya membimbing anak.
b.      Education
Menurut khursyid ahmad, istilah education berasal dari bahasa latin ; e, ex (out) artinya keluar, dan ducere duc (mengatur,memimpin, menyerahkan). Sehingga education memiliki arti :mengumpulkan dan menyampaikan informasi (pelajaran) dan menyalurkan bakat keluar.
                   2. Tinjauan Terminologis .
Dari sudut pandang terminologis, pendapat para ahli pendidikan cukup beragam dalam memberikan arti pendidikan.
a.       Ki Hajar Dewantara.
Pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
b.       Undang-Undang RI. Nomor 20 tahun 2003 tentang pendidikan nasional (pasal 1 ayat 1) “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara.”
b.      Konsep Pendidikan
     Komponen sistem pendidikan nasional meliputi :

·         Dasar pendidikan
·         Tujuan Pendidikan
·         Peserta didik
·         Pendidik
·         Kurikulum
·         Alat / sarana
·         Organisasi
·         Pembiayaan
·         Peran masyarakat

B.     Pendidik dan Tenaga Kependidikan.
Pada dasarnya baik pendidik maupun tenaga kependidikan memiliki peran dan tugas yang sama yaitu melaksanakan berbagai aktivitas yang berujung pada terciptanya kemudahan dan keberhasilan siswa dalam belajar. Hal ini telah dipertegas dalam Pasal 39 UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem pendidikan nasional, yang menyatakan bahwa:
a.       Tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan,
b.      Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.

·         Tenaga Kependidikan:
1.      Tenaga pendidik. Pembimbing, penguji, pengajar & pelatih.
2.      Tenaga fungsional kependidikan. Penilik, pengawas, peneliti & pengembang di bidang kependidikan, pustakawan.
3.      Tenaga teknis kependidikan. Laboran & teknisi sumber belajar.
4.      Tenaga pengelola satuan pendidikan. Kepala sekolah, direktur, ketua, rektor, pimpinan satuan pendidikan luar sekolah.
5.      Tenaga lain yang mengurusi masalah-masalah manajerial atau administratif kependidikan
·         Peranan Guru:
1.      Pendidik.
a.       Mengembangkan potensi/kemampuan dasar peserta didik
b.      Mengembangkan kepribadian peserta didik
c.       Memberikan keteladanan
d.      Menciptakan suasana pendidikan yang Kondusif
2.      Pengajar.
a.       Merencanakan pembelajaran
b.      Melaksanakan pembelajaran yang mendidik
c.       Menilai proses dan hasil belajar
3.      Pembimbing.
a.       Mendorong berkembangnya perilaku positif dalam pembelajaran
b.      Membimbing peserta didik memecahkan masalah dalam pembelajaran
4.      Pelatih.
a.       Melatih keterampilan-keterampilan yang diperlukan dalam pembelajaran.
b.      Membiasakan peserta didik berperilaku positif dalam pembelajaran.

5.      Membantu pengembangan & pengelolaan program sekolah
a.       Sebagai pengembang program.
Membantu mengembangkan program pendidikan sekolah dan hubungan kerjasama intra sekolah.
b.      Sebagai pengelola program.
Membantu membangun hubungan kemitraan sekolah dengan sekolah lain dan masyarakat.

C.     Unsur-Unsur Pendidikan.
Unsur - unsur pendidikan melibatkan banyak hal yaitu:
1.      Subjek yang dibimbing (peserta didik) Peserta didik ini mempunyai status sebagai subjek, yaitu yang diberikan pendidikan. Pandangan modern cenderung menyebutkan demikian oleh karena peserta didik adalah subjek atau pribadi yang otonom, yang ingin diakui keberadaannya. Ciri-ciri peserta didik yang harus dipahami oleh pendidik adalah:
a.       Individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas, sehingga merupakan insan yang unik.
b.      Individu yang sedang berkembang
c.       Individu yang membutuhkan bimbingan individual dan perlakuan manusiawi
d.      Individu yang mempunyai kemampuan untuk mandiri
2.       Orang yang membimbing (pendidik).
Yang dimaksud pendidik adalah orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan dengan sasaran peserta didik. Peserta didik mengalami pendidikannya dalam tiga lingkungan yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Oleh karena itu yang bertanggung jawab atas pendidikan adalah orang tua, guru, pemimpin program pembelajaran dan latihan, dan masyarakat.
3.      Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi eduktif).
Interaksi eduktif pada dasarnya adalah komunikasi timbal balik antara peserta didik dengan pendidik yang terarah kepada tujuan pendidikan. Pencapaian tujuan pendidikan secara optimal ditempuh melalui proses berkomunikasi intensif dengan manipulasi, isi, metode, serta alat-alat pendidikan.
4.      Ke arah mana bimbingan ditujukan (tujuan pendidikan).
5.      Pengaruh yang diberikan dalam bimbingan (materi pendidikan).
6.      Cara yang digunakan dalam bimbingan (alat dan metode pendidikan).
Alat dan metode di sini diartikan sebagai segala sesuatu yang dilakukan ataupun diadakan dengan sengaja untuk mencapai tujuan pendidikan. Secara khusus, alat itu untuk melihat jenisnya, sedangkan metode melihat efisiensi dan efektifitasnya.
7.      Tempat di mana peristiwa bimbingan berlangsung (lingkungan pendidikan).

Pengertian pendidik dan guru

Yang dimaksud pendidik adalah orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan dengan sasaran peserta didik. Peserta didik mengalami pendidikannya dalam tiga lingkunga yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masayarakat. Sebab itu yang bertanggung jawab terhadap pendidikan ialah orang tua, guru, pemimpin program pembelajaran, latihan, dan masyarakat.
Dari segi bahasa, seperti yang dikutip Abudin Natadari WJS, Poerwadarminta pengertian pendidik adalah orang yang mendidik.Dalam literature lainya kita mengenal guru, dosen, pengajar, tutor, lecturer, educator, trainer dan lain sebagainya.
Beberapa kata di atas secara keseluruhan terhimpun dalam kata pendidik, karena keseluruhan kata tersebut mengacu kepada seorang yang memberikan pengetahuan, keterampilan atau pengalaman kepada orang lain. Kata pendidik secara fungsional menunjukan kepada seseorang yang melakukan kegiatan dalam memberikan pengetahuan, keterampilan, pendidikan, pengalaman, dan sebagainya, bias siapa saja dan dimana saja. Secara luas dalam keluarga adalah orang tua, guru jika itu disekolah, di kampus disebut dosen, di pesantren disebut murabbi atau kyaiydanylainysebagainya.

Pendidik memiliki peran yang sangat vital dan fundamental dalam membimbing, mengarahkan dan mendidik kepada peserta didik dalam proses pembelajaran. Karena peran meeka yang sangat penting itu keberadaan pendidik bahkan tak tergantikan oleh siapapun atau apapun sekalipun dengan tekhnologi canggih. Alat dan media pendidkan , sarana prasarana, multimedia dan tekhnologi hanyalah media atau alat yang hanya digunakan teacher’s companion (sahabat-mitra guru).
Pendidik memiliki peran yang amat penting, terutama sebagai agen of change melalui proses pembelajaran. Oleh kareana itu , dengan adanya sertifikasi diharapkan pendidik agar  dapat lebih berperan aktif, efektif dan professional.